Jumat, 31 Juli 2026 pukul 08.23
Atika Kumala Dewi
Bogor, 31 Juli 2026 – Sebagaimana daratan memiliki beragam bentang alam, seperti gunung, bukit, dan lembah, dasar laut pun menyimpan keragaman rupa yang selama ini jarang terlihat. Di bawah permukaan laut terdapat gunung bawah laut (seamount), bukit bawah laut (hill), bonggol (knoll), punggungan (ridge), hingga palung (trench). Seluruh unsur tersebut merupakan bagian dari rupabumi yang perlu diidentifikasi, diklasifikasikan, dan diberi nama sesuai standar internasional.
Untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang identifikasi dan penamaan unsur bawah laut, Badan Informasi Geospasial (BIG) menyelenggarakan Workshop Undersea Feature bekerja sama dengan Geoscience Australia, University of Sydney, dan University of Tasmania. Kegiatan ini menjadi wadah berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai proses identifikasi, klasifikasi, hingga penyusunan usulan nama unsur bawah laut sesuai standar internasional.
Workshop diikuti oleh peserta dari berbagai unit kerja dan instansi yang memiliki peran dalam survei, pemetaan, dan pengelolaan informasi geospasial kelautan, di antaranya:
Kolaborasi ini menunjukkan pentingnya sinergi antarlembaga dalam mendukung identifikasi, klasifikasi, dan penamaan unsur bawah laut sesuai standar internasional, sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam forum internasional yang membahas penamaan unsur bawah laut.
Selama workshop, peserta memperoleh materi mengenai berbagai aspek penamaan unsur bawah laut, meliputi:
Materi tersebut memberikan pemahaman mengenai tahapan yang harus dilalui sebelum suatu unsur bawah laut dapat diusulkan untuk memperoleh nama yang diakui secara internasional.
Selain memperoleh materi teoritis, peserta juga mengikuti sesi praktik menggunakan data hasil survei batimetri di perairan Sulawesi Utara. Berbagai unsur bawah laut berhasil diidentifikasi, antara lain seamount, hill, knoll, ridge, dan reef.
Melalui latihan tersebut, peserta mempelajari cara mengidentifikasi karakteristik geomorfologi setiap fitur, menentukan klasifikasinya berdasarkan standar *IHO B-6*, serta mendiskusikan usulan penamaan yang sesuai.
Workshop menghadirkan narasumber dari Australia yang memiliki pengalaman panjang dalam penelitian geomorfologi dasar laut dan penamaan unsur bawah laut, yaitu:
Melalui diskusi dan sesi praktik, peserta memperoleh wawasan langsung mengenai penerapan standar internasional serta pengalaman dalam penyusunan proposal penamaan unsur bawah laut yang akan diajukan kepada SCUFN.
Workshop ini merupakan salah satu langkah BIG dalam memperkuat kapasitas nasional di bidang penamaan unsur bawah laut. Hasil identifikasi dan pembahasan selama workshop akan menjadi bekal dalam penyusunan usulan nama unsur bawah laut Indonesia yang memenuhi standar internasional.
Usulan tersebut selanjutnya akan melalui proses penelaahan di tingkat nasional sebelum diajukan kepada SCUFN untuk ditelaah di tingkat internasional. Apabila disetujui, nama unsur bawah laut tersebut akan dicantumkan dalam GEBCO Gazetteer, yaitu basis data internasional yang memuat nama-nama resmi unsur bawah laut di seluruh dunia.
Sebagai negara kepulauan dengan wilayah laut yang sangat luas dan kekayaan rupabumi bawah laut yang beragam, Indonesia memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam pendokumentasian dan penamaan unsur bawah laut di tingkat internasional. Melalui kegiatan ini, BIG terus memperkuat perannya dalam pengembangan informasi geospasial kelautan yang mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, pemetaan kelautan, serta memperkuat kontribusi Indonesia dalam forum internasional terkait penamaan unsur bawah laut.
BERITA TERAKHIR
BIG dan Pushidrosal Sepakati 39 Usulan Nama Unsur Rupabumi Bawah Laut Bersama Pemerintah Daerah
31 Juli
Mengenal "Rupa" Dasar Laut Indonesia: BIG Gelar Workshop Penamaan Unsur Bawah Laut Bersama Pakar Internasional
31 Juli
Perkuat Data Geospasial, BIG Lakukan Pemutakhiran Unsur Rupabumi Pulau di Wilayah Sulawesi
30 Juli
Pulau Indonesia Bertambah Jadi 17.380, Mengapa Angkanya Berubah Setiap Tahun?
13 Desember
Penelaahan Pulau di Kabupaten Morowali, 28 Pulau Statusnya Kini Diterima
25 Oktober